Parhumbang Rotating Header Image

hadirmu

Kaui hadir ketika senja tiba,
Berbatas lembayung menggantung
kau hadirkan jingga
Mewarnai hati yang meranggas

Kau hadir ketika gerimis membasah,
Berbatas kelam awan
Hadirkan cahya senyuman
Meremas ragu jadi yakin

Hadirmu tak bersama petir,
Meski guntur mengguruh
Hadirmu justru selembut sepoi berlalu
Terlalu samar untuk tersadar
Meski wujudmu tak lepas dari mata
Baik terjaga bahkan lelap dalam mimpi
Lalu
Semesta mana yang harus kutanya
Jika pada angin selalu kutitip rindu
Pada malam kepesankan sepilku
Bahkan mentari pun seakan seia memanja,
tak terik ?
Atau ombak samudra tak berbatas yang mengiringi layarku berlabuh ?
Bahkan pada hujan, disudut basah jalanmu,
kutitip cinta yang tak pernah ku mengerti.
Karena hadirmu

Sebelum Senja

Kita tak pernah mempunyai walktu yang cukup,
Meski terasa menghabiskan hitungan hari dan tahun
Sama dengan sore ini
Ketika kembali memandang mentari bersandar
Dibatas gunung yang mungkin hanya batas mata.
Sebelum senja
Bukankah telah kita guratkan cerita
Mesk tipis samar
Tapi harusnyA terbaca
Sebelum senja
Bukan kah terucap kata
Walau mungkin lirih
Tapi harusnya bisa menerobos desau angin
Sebelum senja,
Bukan kah telah kita coba semaikan
Meski berbatas mimpi diatas awan
Saat merengkuh hasrat atas remang senja
Sebelum senja….

Bertumbuh menjadi tua

Kita bertumbuh, menjadi tua….

tidak sebatas uban yang mulai menghiasi kepala,

atau rambut yang mulai jarang

tubuh yang mulai mudah letih,

justru karena tunas-tunas itu terlihat semakin tinggi dan segar

bahkan melewati batas kita, tanpa terasa…

 

Kita bertumbuh menjadi tua…

karena masa yang tersisa berkurang,

untuk memberi atau hanya sekedar menerima

untuk mencatat atau dicatatkan

sebab usia hanya kewajiban beriktiar

atas lakon yang tertakdirkan

tanpa hak…

 

Pada MU pemilik usia, kusujud bersyukur

anugrah yang Kau beri,

untuk hari ini lewatnya satu tahun sejarah hidup

untuk keluarga yang tak henti mendorong

atas sahabat dan guru yang tak lelah mengirim doa.

 

Pada Mu pemilik usia,

kuingin sandarkan cerita esok,

sampai sabda mu berkata, waktuku telah tiba.

 

23 Jan.2012..KM 46

”"

 

 

Mari Mencinta

Pagi ini,
February datang
Menjenguk hati dan berbisik
“ini bulan cinta, mari mencinta”
Hati berbisik lirih “mencinta ? Aku ingin bercinta”
February tersipu menebar aroma cinta..

Mari mencinta tanpa bercinta..
Karena cinta tak sekedar memberi dan menerima
Tak terkungkung hukum aksi sama dengan reaksi
Atau dikotomi memiliki dan dimiliki
Dan bercinta..aku tak bisa sendiri

Buah buah cinta tersaji diatas nampan emas
Ada nikmat dan kegembiraan,
kekuatan yg menyempurnakan,
kesabaran dan lapang dada,
kerelaan dalam berkorban
Kesucian dalam pilihan..
Kesetaraan dalam persaudaraan.
Ada rindu…yg tertahan atas nafsu yang membara…
Dan masih berjuta buah yang lain.

Rasanya..?
Tak selalu terasa manis…
Ada kalanya kecut, dalam ragu.
Ada asam…pahit ..dalam kecewa.
Atau bahkan luka yg jadi dendam..
Dan yg terbaru ada rasa strawberry..blakcberry atau coklat..

Yang pasti cinta bukan lah buah nya…apalagi rasanya…
CINTA adalah pokoknya…
Yang berakar dalam, berbatang kokoh, berdaun rindang dan berbuah lebat..
Mari mencinta…tanpa bercinta…

Saat Jagorawi macet lagi..

Maukah

Semalam,
Kau ajak aku ke ruang hati
Berbatas ragu
Tanpa kata, katamu, mata tak butuh cahya
Hati empunya percaya

Sesaat,
Perihmu teraba, bernanah
Sedan bukan lagi penawar sempurna
Sungai air matapun mengering pecah
Murka yang tak pernah terucap
Hati empunya percaya

Dan bila, empunya percaya bicara
Adakah kemarin, hari ini dan besok ?
Jika saat bermakna selamanya.
Masihkan bicara memberi dan menerima
Jika kau dan aku satu

Hari ini,
Kuajak kau ke ruang hati
Bukan untuk lukiskan pelangi, atas hujanmu
guratkan sejuta syair tak bertata, kisahmu
Senandung kan nada janji di atas awan
Hari ini,
Kuajak kau mengisi ruang kosong hati
Maukah ?

Rindu yang Kesekian

Kucari wajahmu di atas awan
Dibatas putih dan biru yang kuyakini langit
Diselusup rindu yang tiba tiba hadir

Kurangkai satu satu awan keperakan
Di kemegahan lukisan langit, wajah mu

Pada mentari pagi
Telah kutitipkan bara rindu yang menggeliat, mendekapmu
Hangatnya membakar diri dalam kecupan elang mencumbu bibir laut
Belaian angin telah kuikrarkan, bagai
Gelora asmara dalam tarian cinta
Beratapkan langit
Tak ada irama
Hanya nafas yang memburu memberi tanda
Telah kudaki gunung kutelusuri lembah
Menghempas atau dihempas aku sudah tak peduli lagi
Untukmu rindu bukan lagi sekedar mimpi

Tanpa Judul – 2

kita berkata tentang percaya,

berikrar atas hari ini dan besok

bukan atas kemarin.

 

kita jejakkan tapak tapak kecil

lewati satuan waktu yang kita juga tak hendak hitung

atas malam atau pagi

bukan kah kita tak ingin kehilangan waktu

dalam momentum dan kesempatan

 

arah angin berputar

tak harus nya mengubah haluan

meski bukan angin buritan,

tak kah kita lebih baik bertahan dalam jalur yang kita tetapkan

hujan turun

tak harus membuat kita kedinginan

meski butuh kehangatan

tak kah dalam gelap cahaya memancar memberi tanda

 

Hari ini, saat matahari bersandar di batas pandang

jingga nya mulai pudar terbungkus kabut

ada luka yang tak ingin ku bagi

sampai kucapai tepian, tak niat merubah haluan

 

raden saleh, saat sendiri

Tentang Februari

Hadirmu tiba tiba,
dan hati termangu,
terkesima dalam ragu
terpukau oleh imbuhan

men
per
di
ter
ke

pergimu tiba tiba
terpisah oleh ragu
semkarut bagai jentera lepas
tertusuk oleh akhiran

an
i
kan

Februari, menghindari imbuhan dan akhiran,
kutulskan,
het spijt me
neem mij niet kwalijk
ioh dedauere
desole
doliente
spiancente

Saat itu telah tiba

Tapi itu yang membuat kita sampai disini.

Di batas saat, yang berarti, “akhir dan sekaligus awal”.

(http://parhumbang.com/2010/08/01/salam-perpisahan-part-2/)\

================ Continue reading →

Salam Perpisahan part – 2

Dan AKU, aku memilih tetap disini, dan tidak tahu sampai kapan. Banyak  hal yang telah kuperoleh disini. Sama, senang dan kecewa, gagal dan berhasil silih berganti. Tidak yakin sampai pensiun, tapi sampai waktunya tiba harus memilih untuk pergi, aku akan mempelajari banyak hal  yang baru hari-hari kedepan ini. Continue reading →